Uang Pertanggungan Untuk Nafkah Yang Ditinggalkan

nafkah

Posted by denjo

Kematian adalah sesuatu yang pasti datang kepada setiap mahluk hidup yang bernyawa, tidak dapat dihindari ataupun ditakutkan. Entah kapan datangnya dan dimana kita tidak pernah tahu. Berbicara yang pasti  terjadi sudahkah kita menyiapkannya  ? Selain bekal ibadah dan berbuat baik terhadap sesama, tentunya kita juga harus takut kepada  orang-orang yang kita tinggalkan, seperti Orang tua, anak, istri dan orang-orang tercinta. Takut yang dimaksud adalah takut merepotkan atau menyusahkan keluarga yang kita tinggalkan.

Secara kita sadari bahwa dari awal membuka mata didunia ini sampai akhir menutup mata tidak terlepas dari yang namanya “Biaya”. Lahir kedunia sudah timbul yang namanya biaya kelahiran diantaranya biaya rumah sakit, biaya akte kelahiran, biaya perlengkapan bayi dsb. Semasa hidup pun kita juga tak luput dari biaya kehidupan sepeti biaya listrik, pam, telepon, tagihan dsb. Akhir hidup pun kita masih tak lepas dari biaya pemakaman ditambah lagi jika ada upacara adat kematian.

Sanggupkah anda menanggung semua biaya tersebut diatas jika hanya menganggung nya sendiri? Sudah pasti tidak sanggup menaggung beban biaya yang tidak dapat kita tanggung selamanya/seumur hidup. Lalu bagaimana solusinya agar biaya hidup terasa ringan dan segala biaya hidup terpenuhi apabila si pencari nafkah telah tiada?

Asuransi Jiwa Syariah atau Allisya Protection Plus adalah solusinya.

Bagaimana bisa Allisya protection plus dapat melindungi semua biaya-biaya yang disebutkan diatas

 Apabila si pencari nafkah pergi bertugas ke luar kota untuk bekerja sudah pasti meninggalkan nafkah untuk anak dan istri untuk biaya hidup sehari-hari selama sipencari nafkah berpergian. Bagaimana jika si pencari nafkah pergi untuk selamanya kedunia lain, bagaimana biaya kehidupan untuk anak dan istri yang ditinggalkan. Jangan sampai anak istri yang kita tinggalkan kesusahan atau mengemis/meminta kepada sanak saudara. Bagaimana pun juga ada atau tidaknya si pencari nafkah mereka harus tetap melanjutkan kehidupannya.

Berapa Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa yang ideal?

Uang pertanggungan paling tidak sebesar 10 sampai dengan 20 kali pengeluaran tahunan, ada juga yang menghitung uang pertanggungan hanya untuk melunasi utang ketika tertanggung meninggal dan ada juga yang menghitung semua kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah, melunasi hutang bahkan berinvestasi dari uang pertanggungan guna menutupi biaya-biaya kehidupan.

Pendekatan yang digunakan, Dari Amir bin Sa’ad, dari ayahnya, Sa’ad, ia adalah seorang dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga- berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjengukku ketika haji Wada’, karena sakit keras. Aku pun berkata,”Wahai Rasulullah, sesungguhnya sakitku sangat keras sebagaimana yang engkau lihat. Sedangkan aku mempunyai harta yang cukup banyak dan yang mewarisi hanyalah seorang anak perempuan. Bolehkah saya sedahkan 2/3 dari harta itu?”Beliau menjawab, “Tidak.” Saya bertanya lagi, “Bagaimana kalau sepertiganya?” Beliau menjawab, sepertiga itu banyak (atau cukup besar).

Sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu kaya, itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga mereka terpaksa meminta-minta kepada sesame manusia. Sesungguhnya apa yang kamu nafkahkan dengan maksud untuk mencari ridha Allah pasti kamu diberi pahala, termasuk apa yang dimakan oleh istrimu.(HR.Bukhari no.4409).

Apa yang kami sarankan?

Dari hadist diatas, kami menyarankan untuk mempersiapkan kebutuhan keluarga yang ditinggalkan dengan tujuan menghindarkan diri mereka dari meminta sepeninggal kita. Tentu ini sesuai dengan batas kemampuan suami (pencari nafkah) dan bukan dipaksakan seperti yang banyak agen asuransi sarankan.

Apa keutamaan dari menfkahi keluarga?

“Sedekah yang terbaik adalah yang dikeluarkan selebih keperluan, dan mulailah dari orang yang kamu tanggung.” (HR.Bukhari).

Menafkahi keluarga merupakan sedekah terbaik sehingga dengan keutamaan ini, layak bagi kita untuk meninggalkan nafkah sesuai dengan kemampuan kita. Bukan untuk memanjakan keluarga dan bukan pula untuk memberikan kemewahan bagi anak-anak, tetapi untuk mencari keridhoan Allah.

Kebutuhan kelurga biasanya dipenuhi dari penghasilan kepala keluarga dan idealnya ketika kepala keluarga tidak ada, maka nafkah tersebut tetap ada. Paling tidak keluarga masih dapat memenuhi kebutuhan harian sampai dengan 70% bahkan 100%.

Ketika uang pertanggungan diterima, ahli waris menginvestasikan uangnya seperti deposito syariah atau membuka usaha sambil dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Ahli waris dapat mengambil dana dari kantong investasi untuk kebutuhan sehari-hari dengan periode satu tahun sekali.

Untuk membantu kebutuhan informasi Anda tentang Asuransi Syariah, berkonsultasi gratis,

Hubungi Suhardeni 0812 8263 0856

Dikutip dari sumber: http://www.assalamconsultant.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s