Bebas Gharar, Maysir dan Riba

konvensional

Asuransi menjadi sangat menarik untuk dibahas, khususnya menggunakan kacamata muamalah islam, karena mayoritas penduduk Indonesia beragama islam. Banyak sudut pandang dan opini yang agak menggelitik dalam ruang diskusi, tapi di sini kita akan lebih fokus membahas asuransi (konvensional) menggunakan kacamata mualat islam. Sehingga selepas membaca tulisan ini, anda akan dapat menyimpulkan tentang hukum asuransi (konvensional). Tetapi tidak hanya disini, mungkin ini akan menjadi pertimbangan bagi anda untuk meninggalkan asuransi konvensional dan beralih ke asuransi syariah

Asuransi itu halal, tetapi semua itu tergantung bagaimana proses? Proses yang dimaksud adalah terbebas dari gharar, maysir dan riba. Asuransi juga bisa diibaratkan menu ayam, ayam pada dasar nya halal untuk dimakan tetapi tergantung pada proses penyembelihannya, membaca basmallah atau tidak. Jika tidak maka haram untuk dimakan. Begitupun juga dengan asuransi ada yang haram (Asuransi konvensional) dan juga ada yang halal (Asuransi syariah).

Mengapa asuransi konvensional haram?

Asuransi konvensional haram karena ada istilah transfer of risk dimana terjadi transfer risiko dari peserta kepada perusahaan asuransi dan itu terdapat unsur Gharar, maysir dan riba.

Apa itu Gharar? Contohnya seperti apa?

Gharar keraguan/ketidakpastian artinya sesuatu yang mungkin terjadi dan mungkin tidak terjadi (Imam Syafii). Suatu akad yang mengandung unsur penipuan karena tidak ada kepastian tentang objek akad, spesifikasinya, kemampuan menyerahkannya, waktu pembayarannya, besaran harga serta kepemilikan.

Contoh:

  • Ketidakjelasan akad terhadap dana peserta.
  • Ketidakjelasan besaran premi yang harus dibayar peserta untuk mendapatkan Uang Pertanggungan tertentu.

Maysir (Perjudian)

Untung-untungan, ada pihak yang diuntungkan dan ada pihak yang dirugikan, ada ketidakseimbangan antara pengorbanan dan hasil.

Contoh:

Prinsip asuransi konvensional berdasar produk term life dimana ada kemungkinan terjadi premi hangus (saat peserta tetap hidup pada akhir kontrak). Bila hal ini terjadi maka seolah ada pihak yang diuntungkan dan ada pihak yang dirugikan.

Riba

Tambahan yang dikenakan untuk transaksi pinjaman uang yang diperhitungkan dari pokok pinjaman tanpa mempertimbangkan pemanfaatan/hasil pokok berdasarkan tempo waktu dan diperhitungkan secara pasti di muka berdasarkan persentase. (Fatwa MUI 16 Desember 2003).

Inti larangan Riba:

  1. Zhulmu (Kezaliman/eksploitasi)
  2. Masyaqqoh (beban) pada debitur
  3. Memutuskan persaudaraan
  4. Tidak adil
  5. Tidak mendorong produktivitas (sektor rill)

Demikian saudaraku, inilah beberapa hasil bahasan asuransi konvensional dari kacamata muamalah islam dengan menggunakan beberapa indikator yaitu gharar,maysir dan riba.

Tanggapan klasik yang biasanya muncul disetiap tulisan khususnya tentang komparasi asuransi syariah vs asuransi konvensional seperti ini adalah sama saja. Syariah hanya dijadikan embel-embel agar tetap laku dipasaran padahal sama aja dengan asuransi konvensional.

Melalui tulisan ini untuk kesekian kalinya ingin kukatakan: “saudaraku, kita adalah muslim. Dan keislaman kita dapat diukur dari seberapa banyak ajaran islam yang mampu kita terapkan dalam kehidupan kita. Dan islam adalah agama yang syumul atau lengkap dan komprehensif. Tidak hanya mengatur tentang sholat, wudhu, dan sejenisnya. Tapi juga mengatur tentang transaksi keuangan dan prekonomian.

Rasulullah saw adalah seorang ahli ibadah tapi juga seorang ekonom sejati, ekonom robbani yang menjunjung tinggi etika-etika bertaransaksi seperti menghindari gharar, maysir dan riba. Beliau dengan sangat keras dan tegas melarang unsur-unsur tersebut.

Lalu jika memang lembaga-lembaga keuangan syariah di negeri kita kini belum mampu sepenuhnya menerapkan prinsip syariah maka sikap kita harusnya ikut berkontribusi agar ke depan mereka (Lembaga Keuangan Syariah) dapat menerapkan prinsip syariah dengan total dan sempurna. Bukan justru menjelek-jelekan atau menghina. Ada sebuah kaidah fikih yang megatakan (koreksi jika bahasa arabnya kurang tepat) ma la yudraku kulluh ya yutraku kulluh- sesuatu yang belum dapat diterapkan sepenuhnya (seluruhnya) tidak berarti meninggalkan keseluruhannya”.

Semoga mencerahkan. Jika ada kebenaran dalam tulisan ini, sumbernya dari Allah, jika ada kesalahan maka itu bersumber dari saya pribadi.

Wallahua’la wa a’lam.

Untuk membantu kebutuhan informasi Anda tentang Asuransi Syariah, berkonsultasi gratis,

Hubungi Suhardeni 0812 8263 0856

Dikutip dari sumber

http://multazamzakaria.blogspot.co.id/2015/01/asuransi-konvensional-haram.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s