4 Cara Cermat Memilih Asuransi Penyakit Kritis

cermat

Posted by denjo

Kejadian apapun di masa depan adalah misteri. Terkadang ia bisa diprediksi berdasarkan perilaku kita di masa kini. Tapi ada juga peristiwa di masa depan yang tak terduga. Hari ini kita bisa saja bersikap tenang dan tersenyum bahagia. Tapi cerita hidup selalu berwarna sehingga musibah yang salah satunya berupa kedatangan penyakit kritis bisa datang kapan saja.

Membeli produk asuransi untuk perlindungan diri jangan sampai dipahami sebagai perilaku yang menyimpang karena berpotensi bergantung pada selain sang pencipta. Tidak! Pandangan tersebut salah besar sebab manusia diinstruksikan untuk berikhtiar meminimalisir segala susah hati yang diterima di alam dunia. Salah satunya yakni dengan mengambil asuransi penyakit kritis agar kita siap secara batin dan finansial menghadapi kejadian buruk yang datang semaunya.

Asuransi Penyakit Kritis merupakan salah satu bentuk pengembangan produk perusahaan asuransi sebagai pilihan agar masyarakat dapat mengelola keuangan secara bijak. Asuransi jenis ini memberikan santunan terhadap para pemegang polis yang mengajukan klaim, setelah ia terdiagnosis didera penyakit kritis. Di antara penyakit kritis tersebut yakni penyakit jantung, tumor, kanker, dan ginjal.

Asuransi Penyakit Kritis dalam Catatan Sejarah

Sebagaimana dilansir dari situs berita kompas.com, Asuransi Penyakit Kritis dibuat pertama kali oleh dr Marius Barnard di Afrika Selatan pada 6 Oktober 1983. Produk tersebut kemudian diterima di banyak Negara karena terbukti bermanfaat di saat datang kejadian tak terduga.

Termasuk Indonesia, sejumlah perusahaan asuransi menawarkan Asuransi Penyakit Kritis seiring dengan tingginya kepedulian masyarakat akan antisipasi kejadian tak terduga. Penggunaan Asuransi Penyakit Kritis akan menyelamatkan asset berharga milik pribadi seperti tabungan rutin atau investasi lainnya.

Penyakit Kritis atau Critical Illness mengandung definisi sebagai penyakit yang sudah kritis, kronis, atau lanjut sehingga bisa dikatakan tidak dapat atau kecil harapan untuk kembali ke keadaan normal. Kebanyakan dari penanganan penyakit ini bersifat darurat, harus cepat, dilakukan secara bertahap dan biayanya mahal.

Bukan hanya itu, proses penyembuhannya pun sangat berliku semisal harus menjalani diet ketat. Risiko dari pasien penderita penyakit kritis yakni hilangnya kemandirian hidup, cacat hingga meninggal dunia. Sejumlah penyakit kritis yang kerap menjadi sorotan para pembeli premi di antaranya stroke, serangan jantung, kanker dan gagal ginjal. Tentu saja masih banyak penyakit lainnya yang berpotensi menjadi kritis dan tidak boleh luput dari kewaspadaan.

Dengan memiliki Asuransi Penyakit Kritis, biasanya kita beranggapan sudah merasa aman sepenuhnya jika nantinya melakukan klaim. Saran Kami, jangan mengambil kesimpulan terlalu cepat bila Anda belum cermat. Jangan malas membaca ketentuan yang terdapat dalam perjanjian asuransi tersebut. Sebab, salah kaprah dalam memaknai layanan Asuransi Penyakit Kritis malah akan menimbulkan kesalahpahaman yang berpeluang merepotkan.

Cermat Sebelum Membeli Asuransi Penyakit Kritis!

Berikut ini sejumlah hal yang penting untuk dicermati sebelum Anda membeli Asuransi Penyakit Kritis:

  1. Cermati kapan masa polis berakhir

Aturan dan kebijakan dari perusahaan asuransi yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda. berbeda dengan perusahaan asuransi lainnya, terutama dalam hal waktu berakhirnya polis. Pengakhiran polis dapat dilakukan oleh pemegang polis atau perusahaan asuransi. Ada juga pengakhiran polis secara otomatis, yaitu jika tertanggung meninggal dunia, berakhirnya program asuransi, atau pembayaran premi terhenti.

  1. Perhatikan syarat dan ketentuan pembayaran uang pertanggungan

Ketika Anda pertama kali divonis menderita salah satu penyakit kritis, bisa jadi Anda tidak secara otomatis dapat mencairkan uang pertanggungan akibat dari ketentuan perusahaan asuransi di awal perjanjian. Ada syarat lain yang harus dipenuhi makanya jangan sampai luput dari perhatian agar selanjutnya dipersiapkan.

  1. Teliti secara detail ketentuan pencairan uang pertanggungan dari penyakit kritis yang berbeda-beda.

Sejumlah perusahaan asuransi menetapkan aturan yang berbeda-beda untuk setiap penyakit kritis. Sebagai contoh, ada perusahaan asuransi yang mencairkan dana pertanggungan jika telah terjadi kegagalan ginjal, atau ketika kondisi fisik benar-benar dinyatakan kritis. Jadi, ketika misalnya ginjal Anda belum “gagal” tapi terus mengeluarkan biaya pengobatan, uang pertanggungan dari asuransi tidak akan cair.

  1. Waspadai juga uang pertanggungan yang tumpang tindih. Misalnya, kita sebagai nasabah pada tahun kelima didiagnosis terkena penyakit ginjal. Uang pertanggungan cair, tapi bisa jadi uang pertanggungan jiwa tidak diberikan karena ternyata sudah termasuk dengan uang pertanggungan penyakit kritis.

Cermat memilih produk Asuransi Penyakit Kritis akan mencegah Anda dari rasa kecewa di kemudian hari. Meski tampak berbelit-belit dan membingungkan, Anda harus selalu menyimak syarat dan ketentuan yang berlaku. Akan lebih aman dan menenangkan lagi ketika Anda mengimbangi kecermatan tersebut dengan memilih produk asuransi berbasis syariah persembahan dari Allianz Syariah alias Allisya.

Untuk membantu kebutuhan informasi Anda tentang Asuransi Syariah, berkonsultasi gratis,

Hubungi Suhardeni 0812 8263 0856

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s