Kesadaran muncul ketika musibah terjadi

benci

Posted by denjo

Bagi saya menjual life insurance adalah menjual produk yang bagus. Produk life insurance adalah bagian dari sebuah rencana keuangan keluarga. Kalaupun teman atau prospek tidak mau membeli, bukanlah mereka menolak saya secara pribadi. Namun karena mereka belum mengerti akan pentingnya produk. Mereka belum membuka hati untuk menerima sebuah konsep rencana keuangan.

Bahkan banyak yang menyalah artikan, membeli asuransi jiwa seperti menggadaikan jiwanya dengan sebuah nominal tertentu. Yang tentu saja hal ini tidak sesuai dengan kepercayaan dan agama yang mereka anut. Jadi penolakan mereka bukan sebuah harga mati, namun membutuhkan waktu untuk mendapatkan pengertian baru tentang pentingnya produk asuransi.

Dimasa yang lalu, seorang agen asuransi banyak didominasi oleh orang orang ‘buangan’, dalam arti kata mereka tidak diterima di sejumlah pekerjaan yang lain. Sehingga daripada menganggur mereka bekerja sebagai agen, dimana saat itu perusahaan asuransi boleh dikatakan menerima siapa saja yang mau menjadi agen. Kondisi ini memperparah citra perusahaan asuransi melalui agen agen yang tidak profesional.

Dengan kemampuan yang terbatas, mereka menjual tidak dengan presentasi yang tepat, namun lebih ke arah minta dikasihani. Sehingga timbul nasabah yang membeli produk asuransi karena kasihan pada agennya, atau tidak tahan didatangi agen asuransi terus menerus. Jadi kedatangan agen asuransi lebih banyak mengganggu aktivitas orang lain. Pekerjaan yang dilakukan tidak dilandasi visi jangka panjang, melainkan hanya merupakan kerjaan lompatan menyebabkan mereka tidak berpikir ke arah pelayanan yang terbaik.

Saat itu agen asuransi hanya berpikir untuk mendapatkan premi nasabah, yang otomatis mereka mendapat komisi. Sehingga pada saat nasabah membutuhkan bantuan sehubungan dengan polisnya sang agen susah untuk dihubungi, bahkan banyak yang menghilang tanpa berita. Kondisi makin diperburuk, ketika situasi perbankan belum semaju saat ini.

Di kala sistem perbankan masih membutuhkan kehadiran nasabah dengan menyetor secara langsung, membuat nasabah enggan menyetor sendiri preminya. Jalan pintas yang ditempuh adalah menitipkan preminya kepada agennya. Dengan cara ini membuka peluang seorang agen untuk mempermainkan uang nasabahnya. Ketidak siapan mental membawa uang nasabah yang seharusnya bukan menjadi haknya, membuatnya seorang agen tergoda untuk memakai untuk keperluan pribadinya. Semula hanya untuk dipinjam pakai sejenak, namun lama lama menumpuk dan akhirnya premi yang seharusnya disetorkan ke perusahaan tidak sanggup dilakukannya.

Akibat premi yang tidak disetor, berakibat polis tidak pernah issued. Atau bila itu premi lanjutan, mengakibatkan polis menjadi lapse. Dan ketika terjadi klaim, maka perusahaan asuransi tidak membayar klaim itu. Nasabah marah, dan timbullah generalisasi akan sebuah profesi. Kalau seorang agen asuransi adalah penipu. Agen tidak benar, maka perusahaan juga ikut terimbas akan citra tersebut. Maka timbul tuduhan Perusahaan Asuransi Penipu !!

Hari ini situasi tersebut sudah jarang terjadi. Saat ini profesi agen asuransi menuju era sebagai seorang konsultan keuangan. Namun citra buruk di masa lampau tetap menghantui sebagian masyarakat kita. Oleh karena itu tugas kita sekarang, tidak harus menolak tuduhan itu dengan kata kata, namun kita buktikan dengan sikap kita.

Info lebih lanjut : Suhardeni 0812 8263 0856

Artikel terkait

Sahabatku seorang agen asuransi

Dimana membeli asuransi?

 

2 pemikiran pada “Kesadaran muncul ketika musibah terjadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s