Asuransi Syariah Dijamin Halal

halal

Posted by denjo

Masih ada beberapa orang yang memiliki pemikiran sempit bahwa menabung di asuransi itu merugikan, karena apa yang mereka lihat pada klausul salah satu produk asuransi jiwa tradisional seperti asuransi jiwa berjangka.

Produk asuransi jiwa berjangka adalah produk asuransi jiwa dengan premi termurah yang memiliki ketentuan bahwa jika sampai masa pertanggungan habis tidak terjadi apa-apa atas diri tertanggung (meninggal/cacat tetap), maka dia/ahli waris tidak akan mendapatkan apa-apa dari uang pertanggungan atau dengan kata lain polis ini tidak memiliki nilai tunai; Bahkan tidak ada pengembalian atas premi yang sudah dibayarkan. Dan beberapa orang tersebut merasa asuransi telah merugikannya.

Sudut pandang inilah yang perlu diubah.

Tidak ada seorangpun yang hidup di dunia ini yang mau mengalami musibah, termasuk Anda, bukan? Namun, bukannya bermaksud mendoakan yang buruk, bagaimana jika Anda mengalami salah satu musibah tersebut dan tidak memiliki asuransi? Sudahkah Anda siap secara finansial? Apakah jumlahnya cukup untuk menunjang kehidupan Anda yang mengalami cacat tetap dan tidak memungkinkan untuk bekerja lagi bahkan mungkin harus berobat rutin yang biayanya tidak murah seperti cuci darah misalnya? Bagaimana pula dengan kebutuhan hidup lainnya yang masih harus dipenuhi? Apalagi jika Anda juga merupakan tulang punggung keluarga satu-satunya.

Mengandalkan santunan dari kantor, tabungan Anda di bank dan menjual seluruh aset yang Anda miliki belum tentu cukup untuk memenuhi semua kebutuhan di atas karena kebutuhan itu bukan hanya untuk 1 atau 2 tahun saja. Banyak orang terpaksa berhutang banyak ketika mengalami musibah ini dan bahkan meninggalkan hutang-hutang tersebut kepada keluarganya saat ia meninggal dunia.

Berasuransi berarti kita menyadari bahwa resiko meninggal/kecelakaan yang menyebabkan cacat tetap itu dapat terjadi pada siapa saja mahluk hidup di dunia ini dan tidak akan mampu kita tanggulangi sendiri. Kita peduli akan masa depan kita dan orang yang kita cintai tanpa memikirkan “bagaimana jika itu tidak terjadi?”, karena “jika itu terjadi” akan memiliki resiko kerugian lebih besar daripada “jika itu tidak terjadi !!“.

Dengan berasuransi, kita menyadari bahwa resiko kerugian tersebut terlalu besar nilainya untuk kita tanggung sendiri dan menyerahkannya kepada asuransi. Bahkan orang kaya sekalipun masih mengasuransikan dirinya untuk melindungi asetnya jika musibah itu terjadi, apalagi kita sebagai kelas pekerja, seharusnya lebih waspada terhadap resiko tersebut.

Saat mendengar kata “asuransi”, ada banyak pertanyaan yang terlintas di pikiran kita. Bagaimana perusahan tersebut bisa untung, kalau banyak orang melakukan klaim? Mereka yang bergabung dan melakukan klaim mungkin akan merasakan keuntungan karena terlepas dari beban bencana atau masalah kehidupan seperti kebakaran, kecelakaan, dan sebagainya yang sudah diasuransikan.

Misal kita mengasuransikan rumah, dan kemudian terjadi musibah kebakaran maka perusahaan asuransi akan membangun kembali atau merenovasi rumah tersebut menjadi seperti semula. Tapi bagaimana dengan yang berasuransi namun sama sekali tidak mengklaim? Hangus. Lantas keuntunganya apa? Dan banyak lagi.

Perusahaan asuransi sejatinya adalah penjamin dan memberikan jasa keamanan. Saat kita berasuransi, itu artinya kita membeli rasa aman dengan masalah keuangan di masa depan tanpa perlu gusar mencari pinjaman. Karena pihak asuransi akan langsung mencairkan kebutuhan kita sesuai dengan yang diasuransikan. Jadi, jika kita mengasuransikan rumah, kita tidak bisa mengklaim asuransi pada kecelakaan mobil.

Tapi apa yang didapat dari berasuransi namun tidak pernah melakukan klaim? Jawabanya adalah rasa aman. Kita membeli asuransi untuk mendapatkan keamanan dari masalah atau musibah di masa depan. Lantas kenapa perusahaan asuransi berani menanggung resiko besar tersebut? Bagaimana kalau terjadi banyak klaim?. Dalam dunia usaha, untung rugi tentulah hal yang biasa dan harus ada. Inilah yang kemudian disebut resiko dan keuntungan.

Perusahaan asuransi tentu sudah ‘berhitung’ tentang segala kemungkinanya. Dalam psikologi manusia, bisa dibilang 100% pastilah tidak ingin mendapat masalah di masa depan. Siapa yang mau kecelakaan? Siapa yang mau rumahnya terbakar? Siapa yang mau mendapat penyakit keras dan membutuhkan biaya pengobatan yang sangat besar? Pasti jawabnya tidak ada. Jadi, meskipun seseorang mengasuransikan diri dan hartanya dari bencana dan musibah, namun mereka tetap tidak menginginkan musibah itu terjadi.

Meski kita memiliki asuransi mobil, tetap saja kita tidak berharap akan kecelakaan di kemudian hari agar bisa menutut klaim bukan? Walaupun kita sudah memiliki asuransi jiwa, tapi bukan berarti kita berharap segera mati. Rasio dari kemungkinan terjadinya klaim dan tidak, pastilah lebih tinggi tidak terjadi klaim. Dari sanalah perusahaan asuransi memiliki keyakinan untuk mendapatkan keuntungan.

Itulah sedikit pengertian tentang asuransi yang menurut ajaran agama islam hukum akadnya tidak jelas (gharar), gambling (maysir) dan juga terdapat interest (riba) terhadap investasi di dalamnya. Disebut gharar dan maysir karena jika kita tidak melakukan klaim, maka perusahaan asuransi mendapat semua keuntungan dari biaya yang dibayarkan, sementara kita tidak mendapat apa-apa kecuali istilah membeli rasa aman yang sama sekali tidak bisa dimasukkan ke dalam akad jual beli seperti ini.

Lantas apakah ada asuransi yang sesuai ajaran Islam? Ada. Namanya takaful, atau yang lebih sering disebut asuransi syariah. Takaful berasal dari kata kafala, yang artinya adalah menolong. Takaful atau asuransi syariah jauh berbeda dengan asuransi konvensional. Takaful adalah konsep asuransi dimana semua partisipan setuju untuk saling membantu satu sama lain terhadap segala suatu musibah atau bencana di masa depan. Menanggung musibah bersama-sama seperti inilah yang kemudian disebut sebagai tabarru’ atau donasi dari dana takaful. Dari akad yang jelas seperti tabarru’ inilah kemudian mengeliminir hal-hal yang tidak jelas atau gharar dan maysir atau perjudian.

Dalam asuransi syariah, karena konsepnya saling membantu antar sesama, maka dana yang terkumpul dibuat terpisah dengan dana pemegang saham seperti yang terjadi pada asuransi konvensional. Semua resiko dan keuntungan ditanggung bersama. Jika nantinya terdapat surplus dari dana yang terkumpul, maka keuntungan tersebut juga dibagi rata antar partisipan. Tentunya hasil atau keuntungan ini didapat setelah partisipan melaksanakan kewajibanya. Tapi bagaimana jika terjadi minus? Meskipun hal ini jarang terjadi, namun perusahaan asuransi syariah sudah mengantisipasi dan menetapkan akan ada bantuan pinjaman tanpa bunga secara otomatis (Qard Hasan) kepada partisipan.

Jika pada asuransi konvensional ada pilihan investasi, maka dalam takaful juga ada. Yang membedakan antar keduanya adalah bidang investasi dan profit share. Perusahaan asuransi konvensional akan mencari peluang investasi dengan keuntungan besar, tanpa memperhatikan hukum halal haramnya. Dana partisipan juga bisa digunakan untuk investasi dan keuntunganya menjadi milik perusahaan atau shareholders.

Sementara bagi partisipan yang memang memilih opsi investasi, keuntungan dihitung dengan sistem interest atau riba. Pada takaful, keuntungan dari investasi akan dibagi sesuai porsi masing-masing antara partisipan dan shareholders dengan sistem mudarobah atau bagi hasil. Dan tentunya bidang investasi haruslah pada tempat dan sistem yang sesuai syariah (halal). Sebagai contoh, takaful tidak akan menginvestasikan uangnya pada prostitusi, judi dan hal-hal yang dilarang agama.

Asuransi syariah atau takaful juga harus memiliki re-insurance atau re-takaful. Re-takaful ini bisa diartikan asuransinya perusahaan asuransi atau stop-loss insurance. Hal semacam ini tidak menjadi kewajiban pada asuransi konvensional. Di Indonesia, salah satu perusahaan asuransi syariah adalah Allianz syariah.Tentu hal ini sangat sesuai dengan semangat “peduli pada sesama” sesuai kebutuhan.

Selain membantu sesama, produk asuransi syariah juga sangat menguntungkan pada keuangan dan rencana masa depan kita seperti beli rumah, menunaikan haji, pendidikan putra-putri sampai masa pensiun. Respon publik terhadap “asuransi syariah” di Indonesia sangat positif, baik dari muslim dan non mulim. Prospek asuransi syariah ini juga dinilai akan berkembang pesat dan dapat diterima oleh semua kalangan suku serta agama karena sistemnya memang lebih baik dan menguntungkan dibandingkan asuransi konvensional.

Artikel terkait:

Fatwa MUI tentang Asuransi Syariah

Akad/Kontrak Asuransi Allianz Syariah

Info lebih lanjut : Suhardeni 0812 8263 0856

2 pemikiran pada “Asuransi Syariah Dijamin Halal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s